Sejenak kita renungkan bersama :)
Ustadz Felix Siaw,
Cinta itu memikirkan yang dicintai ,
Bukan hanya kemarin dan kini, tapi nanti
Mari kita berbicara tentang masa depan agar hari esok yang dijelang bukan suatu kesengsaraan.
Ada hal yang jelas harus dipersiapkan. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus dihindarkan.
Bila engkau lelaki, engkau harus tau arah saat melangkah . bila engkau perempuan, seharusnya tau bagaimana bertingkah.
Kita bicara masa depan karena ia tidak semudah yang diperkirakan pemuda-pemuda yang lalai, juga tidak sesulit yang diceritakan oleh perempuan-perumpuan yang bercerai.
Setiap muslimah tentu saja menginginkan lelaki yang bertanggung jawab. Yang menghargai kelebihan dan kebaikannya, dan memaafkan kealfaan kekurangannya.
Muslimah mana yang tidak ingin lelaki berbudi pekerti, baik hati, tinggi iman, dan lulus amal. Muslimah selalu menanti lelaki elok akhlak dan rasa. Yang memiliki kelembutan dengan anaknya, dengan istrinya ia mesra.
Muslimah mana yang tidak mendambakan lelaki yang bisa mengawalnya jauh dari neraka. Dan membimbingnya menuju surga Allah.
Lelaki mana yang tidak suka dengan wanita cerdik cendikiawan lagi berparas menawan. Yang lisannya seanggun geraknya.
Lelaki yang baik pasti menyukai wanita lemah lembut lagi santun. Pintar membahagiakan suami dengan masakan dan perhatian. Tidak tamak harta, dan selalu menjaga kehormatan.
Lelaki mana yang tidak menginginkan wanita yang mendukungnya dalam kebaikan. Dan mengeluarkan kebaikannya. Dirindukan bila ditinggal, dan menyenangkan bila berjumpa.
Sialnya, kita hidup dizaman kapitalisme yang mengajarkan lelaki dan wanita masa kini untuk memoerhatikan fisik bukan isi. Perhatikan badan bukan iman. Kapitalisme, sukses menjadikan kebahagiaan dan materialistis sebagai tujuan tertinggi. Hingga dibuat sebagai tujuan yang tertinggi.
Maka hedonisme, anak kandung kapitalisme, sukses menjadikan lelaki hanya peduli nikmat sampai batas kulit. Wajar, bila kita melihat dimana-mana lelaki jadi miskin tanggung jawab dan fakir komitmen.
Bila lelaki yang tidak lulus ujian tanggung jawab dan komitmen merekalah yang akan masuk jurusan “pacaran”.
Cinta disempitkan dalam arti pacaran. Terbatas dalam rayuan palsu dan bergandengan tangan. Padahal perndamping yang shaleh tidak didapatkan dari proses pacaran, karena keshalihan dan kebatilan jelas bertentangan.
Hak dan batil tidak akan bertemu bagai fatamorgana yang dijanjikan kemuliaan semu. Bagaimana bisa lelaki yang sudah memahami pacaran itu perbuatan yang dilarang oleh Allah, memaksa dengan berbagai alasan agar engkau berbagi dosa dengannya ? melawan Allah,
Lalu, yang seperti ini bisa menjadi panduan setelah menikah ? sebelum halal saja, dia sudah berani katakan sayang kepadamu. Jangan heran bila setelah ia menikah dia katakan ke wanita-wanita lain. Toh, sama-sama bermaksiat pada Allah.
Jika sebelum akad saja ia sudah berani melabuhkan tangannya pada tubuhmu , jangan heran bila setelah menikah. Ia mampu melakukan itu pada wanita-wanita lain. Toh, sama-sama dosa pada Allah ? yang tiada takut dosa saat sebelum menikah. Tentunya jangan harap ia takut dosa setelah menikah. Terima kasih.





